"Bantu
Orang Lain Agar Maju, Tumbuh dan Berkembang"
TULIS-menulis
berkembang kian pesat dewasa ini. Melalui buku, blog, Facebook, Twitter, dan
lainnya, seseorang dengan mudah mempublikasikan karya tulisnya. Dengan cara
seperti ini, seseorang sudah dapat disebut sebagai penulis. Karyanya akan terus
dikenal sampai kapanpun.

Karya-karya mereka pun beragam
jenisnya, mulai dari pengalaman sehari-hari, opini, hingga fiksi. Jangan salah.
Bila kita menulis dengan baik dan benar, kemudian tulisan kita bermanfaat bagi
orang banyak, bangsa dan negara. Kita pun bisa disebut sebagai ”pahlawan”.

Aktivitas menulis bisa
dikatakan gampang-gampang susah. Gampang bagi mereka yang sudah terbiasa, hanya
dalam hitungan tidak lebih dari 15 menit mereka mampu menuangkan apa yang
terpikirkan tertuang dalam beberapa halaman.
Dan dikata susah, karena
banyak yang mengaku merasa kesulitan saat mengungkapkan apa yang terpikirkan,
tema ada, gambaran umum juga ada, tapi sesaat setelah memulai menulis, tangan
terhenti, moodnya macet lagi, dan banyak yang enggan menulis gara-gara ini.
Mengapa banyak orang tidak
menulis? Apa alasan mereka? Padahal menulis memiliki manfaat yang besar. Pada
dasarnya, dengan tulisan, kita dapat menginformasikan segala sesuatu, baik itu
fakta, data maupun peristiwa.
Termasuk pendapat dan
pandangan terhadap fakta, data dan peristiwa agar khalayak pembaca memperoleh
pengetahuan dan pemahaman baru tentang berbagai hal yang dapat maupun yang
terjadi di muka bumi ini.
Di samping itu, seorang
penulis bisa juga membujuk seseorang. Harapannya, pembaca dapat menentukan
sikap, apakah menyetujui atau mendukung yang dikemukakannya.
Penulis harus mampu membujuk
dan meyakinkan pembaca dengan menggunakan gaya bahasa yang persuasif.
Oleh karena itu, fungsi
persuasi dari sebuah tulisan akan dapat menghasilkan apabila penulis mampu
menyajikan dengan gaya bahasa yang menarik, akrab, bersahabat, dan mudah
dicerna.
Sisi lain yang dibidik dalam
menulis adalah mendidik seseorang. Ini adalah salah satu tujuan dari komunikasi
melalui tulisan.
Melalui membaca hasil tulisan
wawasan pengetahuan seseorang akan terus bertambah, kecerdasan terus diasah,
yang pada akhirnya akan menentukan perilaku seseorang.
Orang-orang yang berpendidikan
misalnya, cenderung lebih terbuka dan penuh toleransi, lebih menghargai
pendapat orang lain, dan tentu saja cenderung lebih rasional.
Manfaat
Menulis
1. Mencegah Kepikunan.
Menulis erat sekali kaitannya
dengan kerja otak. Sebagaimana tubuh membutuhkan olahraga, dan hati butuh
ibadah, otak juga butuh olahraga. Dan olahraga otak dengan melatihnya terus
berfikir positif.
Bagaimana agar otak tetap
berfikir positif, diantaranya dengan membiasakan menulis, mengungkapkan apa
yang terpikirkan lewat tulisan, dengan kebiasan inilah otak terus bekerja,
terlebih jika menulis sebuah tulisan ilmiah, otak akan lebih bekerja lagi dalam
mengumpulkan beragam referensi untuk menjadi sebuah tulisan.
jika terus demikian. Maka otak
tidak akan pikun nantinya, tidak menjadi pelupa di saat tua, karena ibarat
pedang, semakin sering diasah dan digunakan, ia semakin baik dan tajam, begitu
pula dengan otak kita.
2. Instrumen Perekam Jejak
Sejarah
Menulis adalah satu dari
sekian banyak instrumen perekam jejak sejarah, dan wasilah ini yang paling
banyak tersebar dan mudah di dapat, kita mengenal kehidupan para nabi, ulama
salaf, orang-orang besar, asal usul suatu negeri, dan yang lainnya adalah lewat
tulisan.
Jika Kita hendak merekam
sesuatu, cukuplah tuangkan lewat tulisan. Inilah cara klasik yang takkan pernah
tergantikan oleh apa pun, menulis dan tulisan akan selalu ada dan akan tetap
ada.
3. Instrumen untuk menjaga
ilmu, pendapat, pemikiran, opini, dan argument dari keraiban, dan untuk
menyebarkannya secara lebih luas.
Tersebarnya beragam madzab
fiqih di belah dunia adalah lewat tulisan dan kerja keras para ulama dalam
membukukan pendapat dan argumen mereka lewat menulis, tanpa usaha keras para
ulama untuk menulisnya, mungkin kita takkan pernah mengenal pemikiran-pemikiran
mereka.
Sudah hal maklum bahwa
kekuatan otak mengingat sesuatu sangatlah terbatas, dan satu-satunya jalan
mengabadikan apa yang pernah terpikiran, terlebih sebuah ilmu yang bermanfaat
bagi yang lain adalah lewat menulis, sampai manusia-manusia super jenius pun
tak melewatkan hal ini, semisal imam bukhori, imam muslim, imam ahmad, imam
malik, ibnu hajar, imam thobari dan yang lainnya, mereka tak cukup hanya
mengandalkan kekuatan hafalan dan ingatan dalam menebarkan ilmunya, tapi
diperkuat lagi lewat tulisan.
Dan mereka sangat paham,
mengandalkan hafalan dan ingatan hanya terbatas pada usianya, dan di saat usia
berakhir, berakhir pula manfaat ilmu yang selama ini dimilikinya. Adapun
tulisan akan terus memberikan manfaat yang lain sampai bergenerasi banyaknya
meski sang penulis sudah lama tiada terkubur dalam tanah. Tulisan ini ibarat
dirinya masih hidup, terus menjadi guru dan bisa menebarkan ilmunya pada yang
lain.
4. Media dakwah yang sangat bermanfaat.
Tulisan adalah salah satu
media dakwah yang sangat bermanfaat dan daya sebarnya sangat luas, terlebih di
zaman berteknologi canggih seperti sekarang ini. Kita bisa menulis sebuah ilmu,
dan sesaat itu pula tulisan kita bisa dibaca dan terambil faidahnya oleh mereka
yang tinggal jauh di benua lain.
Jadikanlah menulis sebuah
rutinitas keseharian, media dakwah tanpa harus terjun langsung ke objek dakwah,
baik menulis di atas kertas atau di lembaran-lembaran dunia maya. Dan menulis
ini akan melengkapi usaha dakwah kita di masyarakat, karena hasil menulis
berupa ilmu-ilmu yang terbukukan baik di dunia nyata atau dunia maya masih bisa
dimanfaatkan mereka di rumahnya masing-masing, dibaca, ditelaah, disimpulkan,
dan bisa menjadi bahan diskusi langsung saat ngaji bersama guru-gurunya.
Menulis adalah media dakwah
yang tak boleh di tinggal oleh mereka para dai, para penyeru kebenaran dan
kebajikan. Dengan menulis berarti anda sedang mencetak dan membina asistenmu,
setelah engkau tiada, hasil tulisanmu semasa hidupnya, dialah yang akan menjadi
asisten dan penggantimu untuk menbarkan ilmu-ilmu yang kau miliki.
5. Menulis adalah media
belajar.
Belajar bukanlah hanya
mendengar dan membaca. Tidak lengkap rasanya belajar tanpa menulis. Kurang
lengkap rasanya ilmu yang terpunya kosong dari menulis. Lihatlah kisah hidup
para ulama salaf, para ulama kontemporer, para dosen dan ustadz, orang-orang
besar dan para pemimpin di dunia, sampai orang tersibuk pun dalam bisnis dan
niaga, hidup mereka tak lepas dari menulis.
Terlebih para ulama salaf,
saat kita membaca riwayat hidupnya, pasti kita akan tercengang dan begitu
takjub, betapa tidak, ibnul qayyim menulis kitab zaadul maad hanya dalam satu
safar yang tidak lebih dari berbulan-bulan masanya, padahal kitab itu berjilid-jilid
sampai empat setetah tercetaknya. Bayangkan berapa puluh lebar ilmu tertuliskan
di atasnya dalam seharinya. Ini satu contoh akan keajaiban dan keberkahan hidup
mereka.
Menulis adalah media belajar,
dengan menulis akan mendorong dan menuntut kita menyerap, menggali dan
mengumpulkan informsi sebanyak-banyaknya untuk menopang tema yang hendak
ditulisnya, baik informasi yang bersifat teoritis atau berupa fakta-fakta yang
terjadi.
Saat mencari dan mengumpulkan
informasi inilah kita sebenarnya sedang tenggelam dalam dunia belajar, sedang
mengasah dan pempertajam otak juga pikiran, sedang mengembangkan diri jua
meningkatkan kemampuan, sedang belajar bijak dan santun dalam berfikir.
6. Menulis akan membuat hidup
produktif dan usia tak terbuang sia-sia.
Banyak orang beranggap menulis
membosankan, hidup tak berseni dan hanya milik mereka yang suka menyendiri. Ini
adalah anggapan yang keliru dan sangat keliru sekali. Hanya mereka para
pemalas, orang-orang bodoh, para pengglamor dunia, dan orang gila atau tergila-gila
yang beropini dan beranggap bodoh seperti itu.
Justru dengan menulis membuat
hidup lebih produktif, usia lebih bermanfaat tak terbuang sia-sia. Dengan
menulis wawasan terus bertambah, detik-detik hayatnya terisi sesuatu yang
bermanfaat bagi diri dan orang lain, langkah dan akivitasnya tak kan terbuang
ke perkara yang tiada manfaat sama sekali, karena dirinya tersibukkan oleh
beragam informasi, fakta, wawasan, ilmu, pengetahuan, penelitian, pengamatan,
observasi, survai yang harus tergali dan terkumpulkan sebagai referensi bahan
yang akan ditulisnya.
Anda bisa bedakan dengan
mereka yang hidupnya hanya gurauan, bermain-main, sekedar jalan-jalan, berpesta
foya-foya, berglamor dengan dunia hiburan dan jenaka. Apa yang mereka dapatkan?
Apa yang dapat mereka berikan! Apa manfaat yang terbagikan? Apa kebaikan dan
adakah perubahan positif yang terzahirkan dari hati mereka? Saya yakin ada bisa
menjawabnya sendiri. Dan itu lebih objektif dalam pandangan saya.
7. Menulis akan membentuk
pribadi yang bijak dan santun.
Dengan menulis kepribadian si
penulis akan semakin bijak dan santun. Karena ia telah belajar banyak dan akan
terus belajar di saat dirinya terus mengembangkan tulisannya. Ia bukan hanya
belajar dan mengambil faidah ilmu secara mentah-mentah, tapi Ia juga banyak
belajar dari gaya bahasa dan format tulisan yang menjadi referensi tulisannya.
Ini adalah hal yang tak dapat
terpisahkan, sedikit banyak pasti ia akan tertarik dan terpengaruh oleh gaya
bahasa dan gaya penyampaian seseorang, terlebih setiap penulis pasti beharap
tulisannya menarik, enak dibaca, tidak membosankan, bahasanya renyah dan hidup,
mengenai sasaran dan tersampaikan maksud apa yang ia tuliskan.
Dengan alasan inilah dirinya
harus banyak belajar gaya dan model penulisan yang bagus dan santun dari orang
lain, dan dengannya ia harus terus berbijak dan santun dalam menulis, semua itu
agar tulisannya bermanfaat dan berbekas bagi yang lain. Dan sikap bijak atau
santun yang ia zahirkan dalam tulisan, juga akan berpengaruh pada pribadi dan
sikap kesehariannya. Saat itu, ia bukan hanya belajar dari tulisan orang lain,
ia pun banyak belajar dari ilmu yang selama ini ia tuliskan.
8. Menulis akan menghasilkan ide-ide
baru
Dengan menulis seseorang akan
berfikir dan terus berusaha mengembangakan pemahamannya dan kemampuan dirinya.
motivasi inilah yang akan mendobrak dirinya menemukan ide-ide baru, karena di
saat ia terjun dalam dunia tulis menulis, dirinya terus tertantang membuat
gebrakan baru untuk menelurkan ide-ide dan gagasan terbarunya.
Ide-ide baru hanya terhasilkan
dari mereka para pemikir yang aktif, terus belajar dan bekerja keras
mengembangkan kemampuan berfikirnya. dan dengan jalan menulis inilah ide-ide
anyar itu akan terus bermunculan dan tersebarkan.
Oleh karena itu, berusahalah
menulis apa yang terpikirkan, apa yang terlihat, apa yang terdengar, apa yang
terasakan, apa yang terbaca, dan terbagikan dari orang lain. karena besar itu
tiada tanpa adanya yang kecil, dan tingginya gunung bermula dari tumpukan pasir
dan kerikil-kerikil, dan hamparan sahara adalah kumpulan pasir-pasir, dan
bentangan sabana yang hijau adalah gabungan rerumputan yang indah.
Begitu juga sebuah ide atau
gagasan, ia akan terus ada dan terkembangkan, dan ide yang besar pasti terawali
oleh ide yang kecil, dan ide yang sepektakuler pasti tertumbuh dari ide yang
biasa-biasa sebelumnya. semua terkaitkan dan tak terpisahkan, hanya kemalasan,
sombong dan keengganan lah yang menjadikan ide-ide jumud, beku dan tak
teranyarkan. menulislah, dan ide-ide baru pasti akan terus bermunculan di benak
kalian, menulislah, dan ide-ide baru pasti akan mengantri untuk tertuliskan.
9. Menulis adalah salah satu
media komunikasi yang terbaik.
Menulis bisa dijadikan sebagai
media komunikasi yang terbaik, berapa banyak para ulama menuliskan ilmunya
dalam kitab yang berjilid-jilid, berapa banyak para motivator membukukan
gagasannya dalam bentuk tulisan, berapa banyak para pujangga mecoretkan
tinta-tinta hikmahnya di lembaran kertas, berapa banyak para pemimpin dunia
menyebarkan propanganda kekuasaannya lewat tulisan, dan masih banyak … yang
berapa banyak mereka mempengaruhi orang lain lewat tulisannya tergugah,
tergerak, termotivasi, dan terbawa dalam perubahan setelah membaca sebuah
tulisan.
Menulis adalah media
komunikasi kita dengan orang lain, media untuk menyampaikan apa yang kita
inginkan, menyebarkan apa yang kita gagaskan, dan mengajak orang lain serta
menggiring mereka untuk ikut berfikir dan berkembang.
Dengan menulis kita pun bisa
membuat orang lain menangis, terharu, tertawa, tersenyum, tersadar dari
lalainya, dan tergugah untuk bangkit menjadi baik dan semangat. dan agar
tulisan yang kita tulis benar-benar berbekas dan bermanfaat bagi yang lain,
menjadi sebuah media komunikasi yang baik, awalilah tulisan itu dengan niatan
yang baik pula, semata-mata mengharap pahala dan keridhaan-Nya, bukan malah
tujuan dunia agar tekenal, terkenang, tersanjung, dan tujuan-tujuan semu
lainnya.
10. Menulis akan melatih diri
siap dikritik dan dievaluasi oleh yang lain serta melatih pemecahan sebuah
masalah.
Menulis adalah media untuk
menelurkan gagasan, menyampaikan ide-ide, dan mengkisahkan apa yang
terpikirkan. di saat gagasan dan ide-ide itu tersebarkan dan terbaca oleh
kalayak ramai, di saat itulah beragam opini akan muncul, entah itu setuju, atau
berupa penegasan, atau ketidaksetujuan, berupa batahan atau sanggahan.
Saat itulah pikiran akan
terlatih dalam menerima kritik dan evaluasi orang lain, apakah yang ia gagaskan
atau ide yang tersampaikan benar atau tidak, sesaat itu pula ia akan terdorog
untuk mencari pemecahan masalah, menggali dan mengumpulkan dalil-dalil dan
opini pendukung akan kebenaran apa yang ia gagaskan dan ide yang tersampaikan.
Dari sinilah dirinya akan
terus terlatih untuk bersikap kritis, aktif, dan berusaha mengembangkan diri
dan kemampuannya. inilah proses belajar yang akan terus menuntut dirinya untuk
belajar dan belajar. inilah manfaat dari menulis, dan tidak ada yang terlihat
dari seringnya menulis kecuai kemanfaatan yang banyak dan faidah yang besar
yang akan terpetik darinya.
Dan masih banyak sekali
manfaat dari seringnya menulis, apa yang saya sampaikan di atas hanyalah
sebagian kecilnya, besar harapan semoga berfaidah dan banyak memberikan manfaat
serta menjadi motivasi bagi yang lain untuk menghidupkan dan membiasakan diri
dalam dunia tulis menulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar